by

Bangsa Turki, Kaum Anshar Jaman Now


Oleh Darliz Azis*  Yes  Muslim  – Semenjak pertama sekali saya menginjakkan kaki di tanah “rum” ini, tepatnya pada 2015 lalu ketika saya mengikuti Konferensi Mahasiswa Internasional dengan lebih dari 45 negara, curiosity (rasa ingin tahu) saya tentang Turki semakin mendalam. Sebuah negeri yang dari postur dan juga latar belakang gen sebenarnya lebih dekat kepada Eropa, akan tetapi kenapa mereka (Orang-orang Turki) ini secara kultur dan kepercayaan lebih dekat ke arah Timur dan juga Timur Tengah.

Setidaknya begitulah pertanyaan yang muncul didalam benak saya. Bahkan sampai ketika saya lulus sebagai awardee dari YTB (Lembaga resmi penyedia beasiswa Pemerintah Turki) tahun lalu juga rasa tersebut masih terus menggelayut dan mengerubungi pemikiran saya hingga beberapa saat saya merenung dan berfikir secara mendalam hingga saya menemukan jawaban yang barangkali hanyalah rekaan dan ke”cocoklogi”an yang barangkali jauh dari kebenaran itu sendiri (wallahu’alam).

Terus terang hal yang paling membuat saya mengenal dan tertarik dengan Turki adalah sejak saya membaca bukunya “Al Fateh sang Penakluk” yang ditulis oleh seorang penulis berkebangsaan Malaysia Abdul Latef Talep pada awal 2008 akhir, pada saat itu saya membaca buku itu sambil mengisi waktu luang dalam aktifitas menjadi penyelenggara Daurah Marhalah-1 (DM-1) KAMMI Jaringan Kampus (Jarkam) IAIN Ar-Raniry yang kebetulan saya ketuai pada waktu itu. Setelah membaca buku tersebut setidaknya ada dua tokoh baru yang menjadi ‘sosok’ Idol dalam dunia aktivisme saya pada waktu itu dan menambah rasa penasaran saya untuk mencari lebih banyak referensi tentang dua tokoh tersebut, yaitu Muhammad Alfateh itu sendiri, kemudian adalah Abu Ayyub Anshary r.a.

Nama pertama mungkin sudah sering kita dengan dan banyak orang yang menulis buku tentangnya. Akan tetapi nama kedua adalah nama yang sebanarnya tidak asing karena sering juga kita baca dalam sejarah-sejarah Islam ataupun didalam riwayat-riwayat hadis. Ya, beliau adalah salah satu sahabat Rasul SAW yang utama kalau kita lihat dari gelar beliau “Al-Anshary” maka bisa kita pastikan bahwa beliau adalah dari kaum “Penolong” Ummat ini ketika Rasulullah Saw. hijrah ke Yatsrib (Sekarang Madinah) dan di rumahnyalah ketika Qiswa (unta kesayangan Nabi) diilhamkan untuk berhenti di rumah beliau (Abu Ayyub Al-Anshary) dan jadilah dengan perantaraan “Qiswa”, Allah Swt. telah mempersaudarakan insan yang paling mulia tersebut dengan seorang Anshar yang teguh tersebut dan Rasulullah Saw. pun tinggal di rumah beliau hingga masjid Nabawi selesai dibangun.

Lalu, apa hubungannya antara Abu Ayyub Al-Anshary dengan Turki? Abu Ayyub atau nama asli beliau Khalid bin Zaid bin Khulaib adalah seorang sahabat Nabi yang dilahirkan di Yastrib/Madinah pada tahun 587 M, dan wafat di Konstantinopel (Istanbul sekarang) pada tahun 674 M dalam sebuah percobaan penaklukan konstantinopel yang ke-3 pada masa khalifah Muawwiyah. Seakan ingin menjemput nubuwwat Sang Nabi, pada saat itu Abu Ayyub “Aku mendengar baginda Rasulullah saw. mengatakan seorang lelaki soleh akan dikuburkan di bawah tembok tersebut dan aku juga ingin mendengar derapan tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentera seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda.”

Makam Abu Ayyub atau disebut juga dengan komplek makam “Sultan Eyub” orang Turki menyebut Abu Ayyub adalah sultan pertama di Turki, karena dengan Inspirasi beliaulah penaklukan demi penaklukan yang terjadi di anatolia tengah (Turki bagian Asia) dari mulai perbatasan syam hingga ke pusat awal pemerintahan Utsmaniyyah di Bursa hingga ke wilayah Edirne (tempat kelahiran Sultan Muhammad Alfatih) perbatasan dengan Bulgaria sekarang. Di komplek Sultan Eyub terdapat sebuah masjid dan komplek pemakaman serta pasar yang sangat ramai bahkan

di kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai Kabupaten Eyub hanya berjarak 2 kilometer saja dari pintu benteng masuknya Sultan Alfatih bernama Edirnekapi.Abu Ayyub Al-Anshary adalah salah seorang dari kaum Al-Anshariyyun (kaum penolong) yang telah mengangkat kaum muhajirin di Madinah sebagai saudara perjuangan mereka yang kemudian Allah takdirkan diwafatkan di tempat terjauh yang pernah dijangkau oleh para sahabat langsung Nabi Saw.

Wafatnya Abu Ayyub dalam perjuangan awal penaklukan Konstantinopel telah mematrikan sesuatu di jiwa saya bahwa ini adalah isyarat dari Tuhan untuk menetapkan bahwa bangsa ini adalah kaum anshar baru bagi dunia Islam yang hari ini sedang terseok-seok dalam berbagai bencana dan konflik yang tidak berkesudahan. Kalau dulu yang terusir dari Mekkah adalah adalah Rasulullah dan para sahabatnya, maka hari ini yang menjadi muhajirin adalah para ummat Islam di berbagai benua yang berlindung dan mendapatkan pertolongan dari bangsa Turki.

(Darlis Aziz)


Setidaknya itulah fakta yang bisa saya lihat secara langsung disini dengan mata kepala saya. Sampai dengan detik ini terdapat hampir 300.000-an mahasiswa internasional yang berasal dari hampir 60-an negara yang belajar di Turki, dan 70% nya adalah melalui beasiswa Pemerintah Turki atau Turkiye Burslari (YTB). Pemerintah Turki sejak 2013 telah menetapkan standar yang sangat bagus terhadap mahasiswa Internasional, meskipun uang saku yang diberikan tidak sebesar negara-negara lain, akan tetapi Pemerintah Turki memberikan fasiltas yang sangat lengkap seperti Asrama, Asuransi kesehatan, dan program pengembangan diri yang diatur dengan sedemikian rupa.Selain bidang pendidikan, Pemerintah Turki juga memberikan pelayanan (hizmet) yang sangat besar terhadap korban konflik di Suriah. Tanpa melihat mazhab dan agama apa yang dianut oleh para pengungsi,Turki telah membantu menampung hampir 4 juta pengungsi di seluruh kawasan Anadolu. Dari data yang disadur dari media resmi pemerintah (trt.com/tr) Pemerintah Turki telah menggelontorkan dana sebesar $30 Miliar USD atau hampir 500 Triliun rupiah untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi tersebut sampai dengan detik ini.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed