Jadikan Suamimu Sebagai Pemimpin, Tak Usah Ngotot Jadi ‘Raja’ Dalam Rumah Tangga | Info Makkah

Posted on
Bukan bermaksud menghimbau para suami untuk berlaku arogan kepada sang istri; dan menempatkan istri pada posisi bawah, yang selalu ditekan dan dizhalimi. Tidak! Namun, tatkala gemuruh suara emansipasi wanita dan persamaan gender terlalu nyaring terdengar, sehingga hendak membungkam lantunan pesan-pesan Qur’ani yang memposisikan suami sebagai qawwam (pemimpin) di dalam keluarga, maka ini menjadi persoalan tersendiri.

Jadikan Suamimu Sebagai Pemimpin, Tak Usah Ngotot Jadi 'Raja' Dalam Rumah Tangga

Sehingga, fenomena ‘suti’ (suami takut istri) cukup memilukan hati. ‘Suti’ selalu tunduk di bawah perintah istri dan menuruti semua kehendak istri. ‘Suti’ selalu menyerahkan segala keputusan keluarga kepada istri, dan ia menjadikan istri sebagai leader di dalam keluarga.

Mengapa suami takut kepada istri dan selalu menuruti kehendak istri? Penyebabnya mungkin sangat beragam. Bisa jadi karena istri lebih sempurna dari suami. Istri lebih tinggi status sosialnya, lebih tinggi pendidikannya, lebih kaya dan lebih besar gajinya, sehingga suami merasa minder di hadapan istrinya. Bisa juga karena suami sangat takut jika sang istri marah, ngambek, dan mengumpatnya, sehingga ia cenderung manut dengan istrinya. Walau terkadang kemauan istri itu bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Berapa banyak suami yang ‘terpaksa’ melakukan perbuatan dosa, hanya karena ingin menuruti istri yang terlalu menuntut keduniaan kepada suaminya? Padahal, Islam mengajarkan kesederhanaan, sifat tawadhuk dan qana’ah dalam hidup.

Ar-Rijal Qawwamuna ‘alan Nisa’ 

Perihal kepemimpinan laki-laki terhadap kaum wanita ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…” (An-Nisa’ [4] : 34)

Ibnu Katsir di dalam tafsirnya mengatakan, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,’ artinya seorang lelaki itu menjadi penanggung jawab bagi seorang wanita, menjadi pemimpin, ketua, penguasa dan pemberi pelajaran bila seorang wanita melakukan penyimpangan.” Al-Qurthubi menyatakan, “Ayat di atas menunjukkan kewajiban bagi kaum lelaki untuk mendidik kaum wanita. Jika kaum wanita telah mampu memelihara hak-hak kaum lelaki, maka seorang lelaki tidak berhak memperlakukan mereka secara buruk.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *