Kisah ‘Tangan Emas’ Sukri, Helper Bandara Soetta yang Viral karena Kejujurannya Tolak Uang Tip

Posted on
Menjadi pekerja kasar pasti memiliki tantangannya sendiri. Berpeluh setiap hari serta membentengi diri dari hal-hal yang sudah menjadi standard operational procedure (SOP) sebuah perusahaan. Sebagian orang mungkin berpikir “halah begitu saja kok repot, sudah jadi resiko kan,” namun di sisi lain menjalani pekerjaan tersebut dengan besar hati merupakan hal yang patut diapresiasi.

Hal ini juga dialami oleh seorang pria paruh baya bernama Sukri. Sudah bertahun-tahun lamanya ia menjadi seorang helper atau dulunya disebut porter di Bandara Soekarno Hatta (Soetta), Cengkareng. Baru-baru ini kisahnya viral karena kejujurannya yang patut diteladani dan dijadikan pedoman bukan untuk para pekerja kasar saja, tapi semua orang.

Baca Juga

Nggak Hanya Romantis, 7 Pasutri Ini juga Inspiratif dan Bikin Bangga Indonesia, Wajib Dicontoh!

Inilah 4 TNI yang Punya Pekerjaan Sampingan ‘Nyeleneh’ karena Takut Uang Haram, Ada yang Mijit Loh

Bekerja Tanpa Mengenal Lelah

Menjadi seorang helper bukanlah hal mudah. Dari segitu banyaknya helper yang bergelimpungan di bandara sebesar Soetta, penumpang yang datang silih berganti dan ingin menggunakan jasa helper pun tak banyak. Karena para penumpang berpikir bahwa mereka haruslah memberi tip kepada para pekerja tersebut.

Padahal, sekarang aturan tersebut sudah tidak berlaku lagi. Hal tersebut dialami oleh Sukri setelah bekerja selama 15 tahun di Bandara Soetta. Pada awal ia bekerja memang hal yang diharapkan Sukri adalah tip dari penumpang, namun sekarang sudah tidak lagi karena aturan dari perusahaan sudah berbeda dan memberinya keuntungan.

Mulai Mengubah Mindset

PT Angkasa Pura Solusi, anak dari PT Angkasa Pura II sudah mengeluarkan kebijakan bahwa sekarang helper telah digaji sebesar UMR sehingga tidak diperbolehkan lagi untuk menerima tip. Dulunya memang semua porter seperti Sukri bekerja tanpa digaji, sehingga mereka hanya mengandalkan tip dari para penumpang. Belum lagi Sukri harus membayar kepada oknum yang memberinya akses kerja di sana sebesar Rp. 250.000 per harinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *