by

Terapi Autisme Dengan Applied Behaviour Analysis (ABA), Efektifkah?

Sudah ada banyak terapi yang dapat digunakan untuk membantu anak dengan autisme. Salah satunya adalah terapi ABA (Applied Behaviour Analysis). Seberapa efektifkah terapi autisme ABA ini?

Apa itu terapi ABA?

Autisme adalah kelainan perkembangan otak anak yang menyebabkan gangguan dalam interaksi sosial, gangguan fokus, hingga gangguan kemampuan bahasa dan berkomunikasi. Tingkat keparahan autisme bisa bervariasi, mulai dari yang paling ringan sampai berat, sehingga anak memerlukan perhatian khusus.

Terapi ABA (Applied Behaviour Analysis) adalah program terapi terstruktur yang berfokus mengajarkan seperangkat keterampilan khusus untuk anak-anak dengan autisme. Terapi ini mengajarkan anak autisme untuk memahami dan mengikuti instruksi verbal, merespon perkataan orang lain, mendeskripsikan sebuah benda, meniru ucapan dan gerakan orang lain, hingga mengajarkan baca tulis.

Penelitian menunjukan bahwa terapi ABA dapat memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan kemampuan sosial dan akademik anak autisme. Selain itu, terapi autisme ini juga bertujuan untuk:

  • Meningkatkan keterampilan perawatan diri
  • Meningkatkan keterampilan bermain
  • Meningkatkan kemampuan anak untuk mengelola perilaku mereka sendiri

Seperti apa cara melakukan terapi ABA?

Terapis anak Anda pertama-tama akan mengamati anak untuk melihat sejauh apa kemampuan yang dimilikinya dan kesulitan yang dimilikinya. Kemudian ia akan menentukan tujuan spesifiknya, misalnya tujuan obyektif terapi ABA anak Anda adalah agar bisa menatap mata orang yang mengajaknya bicara. Terapis juga akan menentukan ukuran obyektifnya, seperti seberapa banyak jumlah tatapan mata anak dalam 10 menit mengobrol.

Untuk mencapai tujuan ini, terapis akan merancang rencana teknis serinci mungkin terkait aktivitas anak selama terapi. Misalnya untuk membuat anak sukses membangun kontak mata, ia akan:

  • Duduk berhadapan sejajar dengan anak, bersama dengan asisten terapis yang biasanya ada di belakang anak.
  • Sepanjang terapi memanggil nama anak sambil memegang benda yang menarik (pancingan). Benda itu akan diletakkan sejajar dengan mata terapis bertujuan memancing anak untuk melihat ke arah mata terapis.
  • Terapis akan memanggil nama anak sambil mengatakan kalimat perintah sederhana. Contohnya, “Mira, lihat” sambil tangannya mengarahkan pancingan sejajar dengan mata. Tujuannya agar anak melihat ke arah mata terapis.
  • Terapis akan terus mengatakan “Mira lihat” hingga sang anak membangun kontak mata dengan terapis secara spontan.
  • Setiap respon tidak sesuai yang dilakukan oleh anak akan direspon dengan terapis dengan menjawab “tidak” atau dengan menyebut nama anak “Mira, tidak”.
  • Jika anak sudah bisa membangun kontak mata, maka terapis akan memberikan pujian-pujian pada anak. Misalnya “ Mira hebat, Mira pintar sekali”. Terapis akan mengulang ulang berbagai macam pujian ketika anak berhasil melakukan apa yang ditargetkan.

Tatapan mata anak yang dilihat terapis akan dijadikan sebagai pengukuran objektif; sudah seberapa jauh perubahan yang ditampilkan oleh anak dalam melakukan kontak mata.

Jika anak sudah berhasil membangun kontak mata, terapis akan melanjutkan terapi dengan tujuan yang baru. Misalnya untuk membuat si anak membalas dengan “ya” ketika namanya dipanggil atau melatih kemampuan motoriknya untuk menangkap bola atau minum dengan gelas. Semakin banyak yang dipelajari, maka akan semakin kompleks tugas yang diberikan terapis untuk anak.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed