by

Sempat Jadi Penjual Es dan Kondektur, Ternyata Inilah Sosok Anak Soekarno yang Puluhan Tahun Dirahasiakan

via tribunstyle.com

Serumpi.com – Jika mendengar nama Soekarno pasti terbayang dalam benak kita jika beliau adalah salah satu tokoh besar yang dimiliki oleh Indonesia. Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin yang teguh, tegas dan setia pada bangsa. Ternyata lebih dari 50 tahun yang lalu, selagi beliau masih berkuasa, Soekarno pernah menikahi seorang wanita Manado bernama Jetje Lengelo.

Wanita tersebut tak lain ialah ibunda dari Gempar. Namun kehidupan Gempar tak semulus seperti kehidupan anak-anak pada umumnya. Ia menjumpai liku-liku kehidupan yang cukup berat. Berdasarkan lansiran tribunstyle.com, berikut ini kisah Gempar.

Baca juga : Menikah Muda Saat 20 Tahun dan Memilih Vakum Ngartis, Kabar Anak Keempatnya Sekarang Bikin Haru

1. Pertemuan ayah dan ibunya

via tribunstyle.com

Sebelum sang ibu meninggal pada November tahun 2004, ia sempat menceritakan sekilas tentang pertemuannya dengan Soekarno. Di mana Jetje mengenal Soekarno sewaktu beliau berkunjung ke Manado pada tahun 1953. Semenjak perjumpaan itu, keduanya sering berkomunikasi dengan telegram atau surat dan sesekali berjumpa apabila Presiden sedang berkunjung ke Manado.

Namun orang tua Jetje tak setuju dengan niat Soekarno untuk mempersunting putrinya. Hingga akhirnya Jetje dinikahkan dengan seorang anggota TNI yang berpangkat Letnan Satu bernama Leo Nico Christofel.

Meskipun pernikahan Jetje dan Leo sudah memiliki dua anak, namun pada akhir tahun 1955 keduanya memutuskan untuk berpisah. Hingga akhirnya pada tahun 1957 Soekarno dan Jetje menikah secara Islam di Manado. Pernikahan tersebut juga sempat dibuat pesta di Jakarta, namun Jetje yang akrab dipanggil ‘Ice’ oleh Soekarno itu kembali lagi ke kota Manado. Pasca Gempar lahir, Jetje berencana untuk menyusul suaminya.

Namun niatnya harus batal lantaran terjadi pemberontakan Permesta. Untuk pertama dan terakhir Soekarno menggendong putranya pada tahun 1960. Pernikahan tersebut diketahui oleh pejabat dekat Soekarno. Seperti Henk Ngatung (Gubernur Jakarta), Mayor Sugandi (ajudan Presiden), Ali Sadikin dan Ibnu Sutowo (yang kemudian jadi Dirut Pertamina).

2. Dirahasiakan

via tribunstyle.com

Sudah bukan rahasia umum lagi jika pada Mei 1998 terjadi suatu iklim politik yang membuat pemerintahan Soeharto memasuki masa-masa surut. Jetje Langelo (atau dibaca Yece) menyaksikan ada wajah yang sangat dikenalnya berada di barisan para demonstran yang kala itu menduduki di Gedung DPR/MPR. Tak lain ialah Charles Christofel yang merupakan putranya. Ia ikut dalam deretan mahasiswa dengan jaket kuning yang meminta agar Soeharto turun dari jabatannya.

Kala itu Charles merupakan mahasiswa dari Fakultas Hukum Program Ekstensi Universitas Indonesia. Tindakan yang dilakukan oleh putranya tersebut membuat Jeetje risau hingga akhirnya ia menyuruh sang putra untuk pulang ke Manado. Namun karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, maka Charles baru bisa kembali ke Manado pada Desember tahun 1999, sembari merayakan perayaan Natal.

Ia sungguh tak menduga jika yang terjadi di rumah akan mengubah seluruh hidupnya. Dirinya mendapati sebuah foto-foto masa muda sang ibu yang berjejer akrab dengan seorang pria yang ia kenal dengan Ir. Soekarno. “Kamu adalah anak Soekarno”, begitu tutur ibunya. Sontak kata-kata tersebut menjadi hentakan yang cukup mendalam dalam diri Gempar.

Ibunya pun lantas menjelaskan alasan selama ini ia dirahasiakan. Pasalnya hal tersebut merupakan keinginan dari ayahnya sendiri, yakni Soekarno. Beliau menginginkan jika anaknya diamankan, untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti kekuasaannya akan jatuh. Terlebih pada pemerintahan Orde Baru yang mana ada operasi militer guna menghapus sisa rezim Orde Lama. Soekarno takut jika terjadi sesuatu pada Gempar dan dirinya.

Ucapan ibunda Gempar itu bukan semata-mata tak berlandaskan bukti. Jetje juga mengeluarkan beberapa dokumen yang selama ini ia rahasiakan. Beberapa dokumen tersebut terdiri dari surat-surat, foto, tongkat komando, keris hingga amanat yang ditulis sendiri oleh Soekarno.

Pada amanat tersebut tertulis permintaan Soekarno yang berisikan jika anak yang dilahirkan pada 13 Januari 1958 tersebut kelak jika sudah dewasa maka berpolitik. Anak tersebut diberikan nama Muhammad Fatahillah Gempar Soekarno Putra. “Kutitipkan bangsa dan negara kepadanya!”

3. Menjadi Seorang Kondektur Bemo

via tribunstyle.com

Saat itu Charles kemudian memiliki nama baru sebagai Gempar Soekarno Putra. Ia pun berniat untuk mengenal ayah biologisnya lebih dekat lagi. Langkah awal ia mulai dengan berkunjung ke makam Soekarno yang ada di Blitar. Kemudian ia berkunjung ke masjid yang berada di area pemakaman raja-raja di Jawa yang terletak di Imogiri. Kemudian ia memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Ketika ia menyandang status baru tersebut ia sudah cukup mapan. Memiliki karier serta pekerjaan yang cukup cerah. Ia pun sudah menikah dengan Jeane Augusta Lengkong serta dikaruniai putra bernama Yohanes Yoso Nicodemus. Namun pencapaiannya kini memerlukan kerja keras yang tak main-main.

Dulunya ia dititipkan di rumah kakak dari suami pertama Jetje. Tetapi dirinya tak diperlakukan dengan baik. Bahkan untuk memenuhi kebutuhannya ia harus menjual es. Ia pun harus bekerja keras di rumah tersebut hingga diperlakukan mirip dengan pembantu.

Ia juga sempat menjadi seorang kondektur bemo. Walau demikian ia tak pernah putus sekolah. Pada 1985 ia menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kemudian dari sana ia sempat menjadi konsultan hukum di beberapa perusahaan speerti Toshiba, Hitachi, ITT, Grundig hingga di beberapa bank.

4. Tes DNA

via merdeka.com

Cerita Gempar membuat satu lagi putra Soekarno muncul di permukaan. Hingga akhirnya Majalah Kartini mengangkat kehidupan Gempar pada terbitan awal di tahun 2000. Karena publikasi yang kian ramai, akhirnya keluarga besar Soekarno terusik. Hingga akhirnya di tahun 2003 ia dihubungi oleh pengacara Guruh Soekarno Putra guna melakukan kemungkinan tes DNA.

Gempar tak menolaknya. Namun ia memberikan beberapa syarat agar tes dilakukan secara terbuka, tes tersebut bukan ia yang meminta serta sampel darah harus diberikan pengawalan oleh tim dokter dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Namun permintaan tersebut hingga kini tiada kabar.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed